Bisnis Bali, 27 Mei 2011
MINIATURISASI INDUSTRIAL
Oleh Tigor Tambunan
Pertumbuhan jumlah angkatan kerja yang cukup besar pada kondisi pertumbuhan industri yang relatif stabil (baca; penyerapan angkatan kerja “terlihat” rendah) bisa saja dibaca secara salah sebagai bagian dari proses deindustrialisasi.
Pengamatan secara parsial atas gejala hilangnya satu atau beberapa sektor industri akibat perpindahan konsentrasi industrial dari satu wilayah ke wilayah lain juga dapat disalahartikan sebagai deindustrialisasi nasional kalau tumbuhnya sektor industri baru di daerah yang ditinggalkan tidak teridentifikasi dengan benar.
Penggunaan teknologi yang lebih efisien, yang di satu sisi mengakibatkan pengurangan jumlah tenaga kerja berkeahlian rendah namun sebenarnya di sisi lain mengakibatkan penyerapan tenaga kerja berkeahlian tinggi — meski dalam jumlah yang lebih kecil — juga bisa ditangkap oleh sebagian orang sebagai gejala deindustrialisasi.
Secara sederhana, deindustrialisasi diterjemahkan sebagai pengurangan aktivitas atau kapasitas produksi industri manufaktur di sebuah wilayah atau negara dalam jangka panjang.
Namun, tidak selalu gejala penurunan aktivitas menjadi bagian dari gejala deindustrialisasi. Apalagi kalau gejala-gejala tadi bersifat insidental dan terjadi dalam rentang waktu relatif pendek. Serangan produk Cina pascapelaksanaan ACFTA, misalnya, sudah pasti akan mempengaruhi dinamika aktivitas industri manufaktur dalam negeri.
Demikian pula urusan instabilitas pasokan energi industrial, masuknya tenaga kerja asing (TKA), dan sebagainya. Bermacam-macam reaksi industrial, termasuk penurunan aktivitas atau kapasitas produksi di beberapa sub-sektor manufaktur atas kondisi-kondisi tadi sebenarnya merupakan proses adaptasi situasional. Reaksi semacam ini bahkan bukan tidak mungkin melahirkan industri-industri baru (industrialisasi sektoral).
Miniaturisasi
Pembangunan ulang industri (reindustrialisasi) padat karya memang akan mengurangi masalah pengangguran, tapi sangat sementara sifatnya. Selain masalah upah minimum yang sangat rendah, rawan demo pekerja, yang ujung-ujungnya membuat produktivitas terjun bebas, sejarah perkembangan industri manufaktur di tanah air menunjukkan produk kita mudah sekali “patah” dihantam produk-produk asing yang jauh lebih murah tapi inovatif.
Industri padat karya hanya jadi obat penenang yang sesaat sifatnya. Dalam persaingan industrial yang demikian sengit, kita tidak dapat mengandalkan tenaga manusia berkeahlian rendah untuk menghasilkan produk-produk berkualitas tinggi dengan kecepatan produksi yang tinggi dan kapasitas optimal.
Di era 2000-an ini, tampilan fisik sistem produksi menjadi jauh lebih kecil dibanding era 1980-1990an. Hebatnya, kapasitas produksinya makin besar. Mesin-mesin sekarang bahkan dirancang untuk melakukan beberapa fungsi manufaktur sekaligus secara berkesinambungan. Jarak transportasi material di tempat kerja menjadi jauh lebih pendek.
Otomatisasi industrial berhasil menekan berbagai bentuk penundaan (contoh: memperpendek waktu pengaturan peralatan produksi dan waktu antrian). Dengan fleksibiltas kapabilitas proses yang sedemikian, pemilik teknologi-teknologi mini bisa lebih bebas memainkan kapasitas produksinya. Para pemilik modal tidak perlu repot-repot mencari kawasan industri khusus. Kalau perlu usaha dijalankan di kawasan hunian. Yang penting, pasokan energi (khususnya listrik) terpenuhi.
Dari sisi jumlah pekerja, perusahaan semacam ini dikategorikan UKM. Tapi dari sisi modal, kualitas dan kuantitas output, mereka sebenarnya termasuk perusahaan menengah ke atas. Fakta penting, jumlah perusahaan semacam ini tumbuh subur di kota-kota besar di Indonesia dan -ini dia- belum terdata dengan akurat! Istilah “miniaturisasi industrial” nampaknya lebih tepat daripada deindustrialisasi untuk menggambarkan situasi industri kita saat ini.
Ada kalanya jumlah perusahaan pendatang baru ( new entry ) dalam sektor industri manufaktur lebih sedikit dibanding jumlah perusahaan yang tutup atau keluar dari sektor industri.Tapi perubahan output produksinya tidak selalu linier dengan perbedaan jumlah perusahaan yang keluar dan masuk dari industri tadi.
Teknologi terbaru memungkinkan output sebuah perusahaan baru — yang ukurannya relatif kecil — menjadi lebih besar dari akumulasi output dua atau tiga perusahaan yang keluar dari industri yang bersesuaian. Terjadi perampingan jumlah perusahaan dan jumlah penyerapan tenaga kerja, tapi output perusahaan secara individual meningkat tajam.
Strategi padat modal
Dua motivasi utama di balik proses industrialisasi dalam sebuah negara adalah mempercepat proses penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Keberhasilan proses industrialisasi dipengaruhi banyak hal.
Dari dalam negeri, kualitas sumber daya manusia, kompleksitas birokrasi, serta ketersediaan dan kualitas infrastruktur adalah tiga faktor penting yang saling berinteraksi. Dari luar, paling tidak ada dua, perkembangan teknologi dan produk.
Terkait dengan dua faktor dari luar tadi, pemerintah tidak boleh ragu menjalankan deindustrialisasi berorientasikan strategi padat modal. Kebijakan penggunakan teknologi tinggi jangan lagi berorientasikan pada penyeimbangan kapasitas mesin dan ketersediaan sumber daya manusia yang melimpah.
Kawasan atau sub-sektor industrial yang memang sudah waktunya menggunakan teknologi tinggi (agar menghasilkan kontribusi nilai ekonomi secara maksimum) harus dipasok dengan teknologi yang tinggi meskipun berada di kawasan padat angkatan kerja.
Lompatan revolusi industrial perlu dilakukan bukan semata-mata untuk “menyegarkan” industri yang selama ini berada dalam kondisi antara hidup dan mati. Tidak juga sekadar strategi spekulatif untuk mencari kemungkinan menghidupkan kembali industri-industri manufaktur yang sudah mulai ditinggalkan oleh negara-negara yang sudah beralih ke sektor jasa.
Deindustrialisasi merupakan tindakan yang serius untuk mentransformasi pengetahuan-pengetahuan terbaru dan mengadopsi teknologi-teknologi terkini. Mekanisasi dan otomatisasi menjadi kebutuhan mutlak.
Sikap mental optimis mesti dibangun dalam menghadapi isu deindustrialisasi. Tidak ada sebuah negara yang memiliki kemampuan optimal di seluruh sub-sektor industri manufaktur. Selalu ada sub-industri yang lemah di sebuah negara, di negara paling maju sekalipun. Perusahaan skala besar yang sudah berada di “zona nyaman” bisa saja mengalami tekanan ekonomi yang sangat besar dalam situasi seperti sekarang ini.
Sebaliknya, perusahaan skala kecil menengah, yang memang pada dasarnya dituntut untuk kreatif secara terus menerus, justru berpotensi menangguk keuntungan yang luar biasa. Apalagi kalau mereka jeli melihat kemampuan teknologi yang diminiaturisasi.
visit: http://bisnisbali.com/2011/05/27/news/opini/x.html