STB Tambunan’s…

November 22, 2009

BENCANA ALAM DAN EKONOMI SIMPATI

Filed under: Uncategorized

Masih terang dalam ingatan saya, tepat beberapa hari setelah kudeta “damai” terhadap pemerintahan Thaksin beberapa tahun lalu, saya dan rekan-rekan dari Indonesia sempat menikmati makan malam di atas sebuah kapal pesiar yang cukup megah sambil perlahan melintasi sungai Chao-Praya. Suasana di atas kapal benar-benar meriah. Pemandangan tepi sungai yang kami lalui terlihat demikian indah dan tenang, jauh dari gambaran berita yang dihembuskan oleh sebuah radio swasta Indonesia yang kebetulan saya dengar secara on-line (via internet) sehari setelah junta militer di bawah pimpinan Jenderal Shonti mengambil alih pemerintahan. “Ekonomi Thailand terguncang, Bath diperkirakan bakal anjlok!” demikian kata pewarta dari radio tersebut. Terus terang, saya tidak paham dengan istilah guncangan ekonomi versi radio tadi. Yang jelas, sebagai orang Indonesia yang datang dengan uang saku pas-pasan, mega bencana politik di Thailand kala itu ternyata sama sekali tidak menghalang-halangi keleluasaan saya untuk mencicipi berbagai makanan Thailand yang memang maknyus untuk lidah saya, termasuk durian ketan dan tom yum-nya. Saya masih dapat menaiki sky-train dengan biaya yang kalau dipikir-pikir sangat murah. Dengan hanya sekitar 25 Bath (Rp 7500) saya dapat menikmati teknologi tranportasi yang sangat cepat, sangat bersih, bersama-sama penumpang-penumpangnya yang sangat tertib! Dalam keadaan ekonomi yang “terguncang” ekonominya saja, saya sebagai orang asing dapat menikmatinya, bagaimana kalau stabil? Memang sih, selama di kapal badan kami sempat terguncang-guncang, pasalnya si penyanyi yang semula kami pikir sedang menyanyi sebuah lagu Thailand yang mirip dengan lagu Bengawan Solo, ternyata benar-benar sedang menyanyikan lagu Bengawan Solo dalam bahasa Indonesia. Habis, pelafalannya lucu sekali!

***

Saya hanyalah orang biasa yang tahu sedikit sekali tentang hal-hal berbau ekonomi. Salah satu istilah ekonomi yang demikian melekat dalam pikiran saya kalau dihubung-hubungkan dengan negeri kita ini adalah istilah ekonomi pembangunan. Perdebatan seputar kondisi perekonomian Indonesia oleh para ahli ekonomi-politik kita sedikit banyak cukup membingungkan saya. Ada yang menyebut telah terjadi perbaikan (pertumbuhan), ada yang ngomong stagnan, tapi tidak sedikit yang mengatakan telah terjadi kemunduran. Semuanya punya indikator-indikator yang mampu mengkonfirmasi pendapat mereka masing-masing. Saya bukan ahli ekonomi, karena itu saya tidak pro siapa-siapa. Pro pun tidak ada untungnya buat saya. Saya hanya mencoba menganalogkan istilah situasi ekonomi di negeri ini dengan situasi ekonomi “individual” yang saya kisahkan di awal tulisan ini. Kalau dalam situasi seperti ini kita sebut dengan era pembangunan ekonomi saja. Lha, kalau terguncang seperti apa, ya! Mungkin, kita –sesekali- perlu mendengar “penilaian” radio on-line bangsa lain via internet tentang situasi ekonomi pembangunan yang sering kita sebut-sebut tadi khususnya ketika negeri kita ini sedang ditimpa berbagai bencana alam. Saya nggak paham, mana yang lebih mengerikan dampaknya secara ekonomi: bencana alam atau bencana politik? Seandainya disuruh dan harus memilih, terkena bencana alam atau bencana politik, saya pasti lebih memilih bencana politik asal –ada catatannya- damai seperti di Thailand tadi.

Sebagai bukan orang ekonomi, sesaat saya sempat tercenung. Melihat bencana alam dahsyat yang datang silih berganti, muncul tanda tanya besar dalam benak saya, “Kapan pembangunan ekonomi dapat benar-benar dilakukan di negeri yang disebut-sebut Koes Plus sebagai tanah surga ini?” Sambil sedikit berkhayal, “Mungkin ini saat yang tepat bagi saya untuk numpang latah lewat media dengan menghembuskan istilah baru dalam khasanah ilmu perekonomian?” To the point saja, di negeri tercinta ini berbicara ngalor-ngidul tentang tentang ekonomi atau politik sepertinya lebih diperhatikan dan didengar banyak orang daripada ngomong tentang lingkungan atau bidang-bidang teknik yang memang pernah sekilas saya pelajari. Nah, istilah pertama yang mau saya angkat adalah ekonomi pemulihan (revival economics). Rasionalitasnya sangat jelas, kita harus fokus pada berbagai upaya ekonomi untuk menormalkan kondisi-kondisi berbagai aspek kehidupan yang rusak atau terganggu akibat bencana. Seluruh perencanaan ekonomi dibuat dengan mengasumsikan jumlah bencana dan dampaknya yang bakal dialami sekian tahun ke depanh. Tapi setelah saya renungkan kembali, ekonomi pemulihan rasa-rasanya juga terlalu prematur untuk dipublikasikan. Persoalannya, -uji kasus pertama- bagaimana mungkin saya bisa menghitung biaya yang harus dikeluarkan oleh bangsa ini untuk memulihkan kondisi mental sekian banyak saudara-saudara kita di Aceh dan Nias yang di saat belum mampu melupakan hempasan Tsunami, ternyata masih harus diombang-ambingkan oleh ketidakjelasan bantuan? Saya tidak menemukan indikator-indikator kinerja ekonomi pemulihan yang tepat untuk menunjukkan bahwa korban tsunami di Aceh dan Nias telah pulih secara fisik dan mental. Uji kasus kedua. Benarkah kerugian aset akibat luapan Bengawan Solo “hanya” ratusan milyar rupiah (Kompas, 4/1/07)? Istilah “aset” dalam bencana sepertinya susah sekali didefinisikan. Apakah jumlah sepeda motor dan mobil yang rusak sudah tercatat? Apa alat-alat elektronika yang ada dalam rumah-rumah tersebut masih dapat digunakan kembali? Dan yang paling penting, banjirnya kan belum jelas kapan surutnya dan kapan tidak banjir lagi kalau hujan kembali datang? Bagaimana mungkin kerugian sudah dapat mulai dihitung? Lalu tentang “wacana” penghijaukan DAS Bengawan Solo. Penghijauan? Menurut saya, ide penghijauan terlalu berat untuk dimasukkan ke dalam komponen ekonomi pemulihan. Waktu realisasinya terlalu lama, tidak cocok untuk dimasukkan ke dalam konsep pemulihan yang membutuhkan jangka waktu penerapan lebih pendek. Penghijauan lebih cocok dimasukkan ke dalam filosofi ekonomi pembangunan yang saat ini agaknya perlu dipinggirkan sejenak bagi negeri ini. Bagaimana mungkin saya bisa menghitung berapa banyak biaya yang dibutuhkan untuk mengembalikan lapisan tanah subur di atas bumi Gresik, Lamongan, Tuban, Gresik, Blora, Solo, Sragen, dll yang sudah terlanjur dicuci oleh banjir? Seandainyapun ide penghijauan tersebut luar biasa canggih sehingga dapat dalam sekejap menumbuhkan berbagai tanaman keras sepanjang DAS Bengawan Solo, toh kita tidak boleh lupa bahwa musim hujan sedang di tengah jalan. Mau menanamnya kapan? Satu lagi, kita harus siap-siap mengelus dada karena setelah tanaman-tanaman tersebut –seandainya berhasil tumbuh- dan memiliki diameter (baru) 5 cm, pikiran masyarakat di sepanjang DAS tersebut akan dipenuhi bayangan pasokan bahan bakar gratis! Berarti? Untuk dua kasus bencana alam saja konsep ini tidak bekerja. Masih layakkah ekonomi pemulihan diangkat? No way!!

Bagaimana dengan istilah ekonomi pertahanan (survival economics). Walah, rasa-rasanya juga nggak pantes! Lha, wong terlalu banyak korban bencana alam yang mengaku –semoga tidak mengaku-ngaku- belum terima kiriman bantuan dari pemerintah? Lho, kan kemarin di TV sudah ada yang salaman sambil sesenggukan terharu waktu terima bantuan? Itu kan bisa jadi salah satu indikator ekonomi pertahanan! Ya, justru itu. Tangis yang muncul di TV tadi merupakan bukti bahwa istilah ekonomi pertahanan pun masih belum dapat diterapkan. Mereka menangis karena mereka tidak yakin bantuan tersebut cukup untuk mendukung kehidupan mereka dalam beberapa hari ke depan. Pasalnya, tidak ada yang dapat meramal kapan banjir bakal surut atau tidak datang lagi. Tapi jangan khawatir, saya masih punya cadangan konsep lainnya, namanya ekonomi simpati (sympathy economics). Seperti apa itu? Ekonomi simpati adalah ekonomi kesabaran. Indikatornya sangat jelas dan sederhana, konsep ini dapat kita anggap berhasil kalau sudah ada yang bisa ngomong, “Sabar…, sabar…, sabar ya, banjir pasti akan surut. Kita semua turut prihatin…” Masih tidak layak juga? Harap maklum, saya bukan ekonom.

Tigor Tambunan- Bukan ahli ekonomi

November 9, 2009

Kontan-Mengukur Investasi TI

Kontan-Mengukur Efektifitas Investasi TI

October 27, 2009

SOP ALA WARUNG IJO-BRATANG SURABAYA

Filed under: Uncategorized

Persaingan di sektor usaha makanan minuman benar-benar makin ketat, apalagi di kota besar. Tidak ada tawar-menawar untuk urusan kebersihan. Contohnya di Warung Ijo yang ada di kawasan Bratang Surabaya ini. Warung kecil milik keluarga ini benar-benar sebuah warung! Bukan restauran yang pura-pura “mewarungkan” diri atau kasih label “warung” buat menjebak para calon pembelinya. Warung Ijo adalah tempat makan rakyat kebanyakan! Yang dijual 100% makanan rumahan! Biasanya kalau dengar istilah warung, kita pasti akan membayangkan sebuah tempat makan yang kumuh, tisu bertebaran di mana-mana, lap untuk piring tidak jarang jadi satu dengan lap untuk meja. Tapi tidak untuk warung yang sedang saya tulis ini. Kalau ngomong masalah kebersihan, gile abis bersihnya!!! Benar-benar bersih! Tidak hanya secara fisik, tapi juga suasananya! Saking bersihnya, sampai-sampai pernah ada kejadian seorang mas-mas rela ngelepasin sandal waktu masuk ke warung ini. Koq bisa demikian bersih? Ternyata sang pemilik warung dan seluruh pekerja warung punya komitmen yang tinggi untuk melakukan beberapa aturan kerja berikut:

  1. Dapur harus benar-benar bersih setelah selesai memasak. Tidak boleh ada ceceran minyak atau air di lantai.
  2. Meja harus selalu bersih dan benar-benar bersih setelah ditinggalkan oleh pembeli. Ngetesnya, punggung tangan dilekatkan di meja untuk menguji ada tidaknya sisa air/ sisa minyak dari makanan yang tertinggal.
  3. Tidak boleh ada sampah apapun di lantai, sesaat setelah pengunjung meninggalkan warung.
  4. Piring dicuci dengan sabun, kemudian dicuci lewat empat baskom air.
  5. Kuku seluruh pekerja warung tidak boleh panjang.
  6. Gigi seluruh pekerja warung harus bebas “jigong”.
  7. Badan seluruh pekerja warung harus wangi. Kalau perlu mandi beberapa kali sehari. Supaya selalu terlihat segar dan bersih.

Siapa bilang warung kecil tidak bisa bersih?

October 23, 2009

Bukan Tentang Anti atau Pro Rokok

Filed under: Uncategorized

Beberapa pertanyaan ringan saya terhadap pemberlakukan Perda No. 5/ 2008 tentang Kawasan tanpa Rokok (KTR) dan Kawasan Terbatas Merokok (KTM)?

  • Kalau ada orang yang mengenakan baju/ kaus promosional sebuah merk rokok tertentu di Kawasan Tanpa Rokok, apakah orang tersebut tergolong melanggar Perda?
  • Kalau ada stasiun TV di ruang tunggu rumah sakit yang sedang menyiarkan iklan rokok, yang kena sanksi pelanggaran Perda No. 5/ 2008 tadi siapa, ya?
  • Kira-kira berapa persen pajak yang bersumber dari segala sesuatu yang berbau rokok yang digunakan untuk pembangunan dan penyediaan Kawasan Tanpa Rokok?
  • Seorang teman di FB komen begini: Wah kebetulan rokok sangat membantu produktivitas di tempat kerja saya! So No Comment! Pendapat yang sama juga beberapa kali saya dengar dari pekerja konstruksi bangunan. Pertanyaannya: kalau ada pekerja bangunan yang merokok saat sedang membangun rumah sakit atau membangun sekolah, termasuk pelanggaran perda atau tidak, ya?
  • Komentar lain lagi dari seorang teman (juga di FB): yah kayanya saya harus buang kaus saya yang dibuat oleh salah satu perusahaan rokok terbesar Indonesia… hmmm…. Pertanyaannya; Kira-kira ada nggak ya pengaruh Perda ini terhadap pesanan kaus di beberapa perusahaan garmen dan perusahaan sablon skala kecil menengah? 
Silakan menambahkan pertanyaan-pertanyaan atau catatan "tidak terduga yang mungkin mampir di benak Anda" berkaitan dengan point-point dalam Perda No. 5/ 2008 ini,…Siapa tahu pertanyaan tersebut berguna….

October 22, 2009

Nggak ngoyo???

Filed under: Uncategorized


Pewawancara (P):…Apa cita-cita Anda yang belum tercapai?

Artis (A): Apa ya? Saya nggak terlalu ngoyo sih dalam hidup ini. Jadi tidak ada cita-cita yang terlalu khusus…

P: Ya paling tidak sebuah harapan, gitu?

A: Ada sih. Jadi politisi. Nanti kalau sudah nggak dipakai lagi di dunia entertainment, saya berharap bisa diterima di dunia politik…jadi caleg, gitulah…hehehe…

P bertanya pada istri si A yang ternyata juga berprofesi artis: Bagaimana nih? Sudah siap jadi istri politisi?

Istri A: Saya sih ikut apa keinginan suami aja.

P: Berarti Anda sudah siap?

Istri A: Ya siap, dong.

October 12, 2009

SIAPA YANG MENINGGAL???

      Baru saja aku login ke yahoomail,  kulihat bayangan seseorang di pintu masuk ruanganku yang kebetulan terbuat dari kaca buram.

      Meski pintu belum diketok, tapi aku yakin pasti sosok itu mahasiswa yang memang mau menemuiku, makanya langsung aku ngomong cukup keras, “Silakan masuk!”

      “Permisi, Pak!”

      “Eh, Ninik! dari mana aja kamu! Ayo masuk!”  kataku.

      Ninik adalah salah satu mahasiswi bimbingan Tugas Akhirku yang sudah lama menghilang, lenyap seperti ditelan bumi…weleh-weleh, istilahnya….!!!  Kawan-kawannya nggak ada yang tahu kabar tentang dirinya sedikitpun waktu kutanya “Mengapa?” (mirip Baladnya Mas Ebiet G Ade)

      Ninik bawaannya cenderung pendiam dan pemalu. Tapi, seorang kawannya pernah cerita kalau Ninik adalah seorang instruktur aerobik di beberapa instansi pemerintah, “Masak iya, sih?” aku sedikit tidak percaya. Anaknya mungil banget!

      “Ayo duduk.., lama sekali kamu nggak kelihatan di kampus? Ke mana kamu selama ini? TA-mu pasti belum kamu kerjakan. Kamu keasyikan kerja, ya?” kucecar dia dengan beberapa pertanyaan sekaligus.

      “Iya, Pak. Maaf, saya lagi banyak masalah…” Untuk beberapa saat dia terdiam.

      “Masalah apa, Nik? Mungkin saya bisa membantu,” tanyaku.

      …. (diam sejenak)…

      …. (diam dua jenak)…

      …. (diam tiga jenak)….

      …. Dan,…..

      Mendadak air matanya mengucur deras.

      Walah! Pake acara nangis segala. Mana persediaan tissue nggak ada lagi.

Bayangkan! Kalau saja ada mahasiswaku yang tiba-tiba nyelonong masuk, sangat mungkin akan muncul gosip-gosip tegak lurus…(maaf, saya nggak suka sama yang miring-miring)

      Sekarang kan jamannya gosiptainment. Semua peristiwa layak dianggap sebagai materi untuk mengasah kemampuan menggosip…

      “Papa saya baru saja meninggal, Pak.”

      “Oh, begitu. Saya turut berduka cita ya, Nik.” Kami kemudian sama-sama terdiam.

      ….

      ….

      Siang itu aku minta bagian administrasi kemahasiswaan untuk pasang pengumuman ikut berduka cita.

      “Sudah saya tempel, Pak. Barusan aja.” kata Pak Dar.

      Lanjutnya, “Tadi pagi, kita sudah terima fax dari mahasiswa Bapak memberitakan hal yang sama.”

      “Oh, ya sudah kalau begitu. Terima kasih, Pak Dar.”

***

      Sekitar tiga bulan kemudian di acara wisuda…

      “Sidang Terbuka Senat Universitas selesai. Atas perhatian segenap hadirin, kami mengucapkan.…” belum sempat MC menyelesaikan kata-katanya, suara teriakan dan lemparan topi wisuda seketika memenuhi ruangan wisuda…

      Nuansa kebahagiaan terasa sekali di wajah para wisudawan dan pengantarnya. Suasana aula tempat wisuda memang kacau banget waktu itu. Perayaan sekali seumur hidup! Wajarlah…

      Ada yang tarik sana, tarik sini. Foto sama-sama.  Ada yang menjerit histeris karena dicium kawannya.

      Beberapa wisudawan terlihat tertawa agak  berlebihan… Naaah, beneran kan! Sampai batuk-batuk segala!!! Heboh banget, sih! Seorang ibu bersanggul kulihat kebingungan sama dandanannya. Setiap kali ada orang yang dekat dengan dirinya, dia langsung mengambil jarak dua langkah ke kanan. Sekarang, dua langkah ke kiri. Balik kanan, mundur dua langkah. Koq seperti tari poco-poco?  Takut tersenggol kali,ya  Mungkin dia belum sempat foto! Kan lucu kalau sanggulnya lepas waktu foto!

      Salah satu dosen, kawanku, kulihat sedang kerepotan menerima permintaan untuk foto bersama para mantan mahasiswanya, Lagi laris dia, rupanya! Kalau wisuda begini, dosen mirip selebritis. Banyak penggemarnya! He…he…he…!

      Tiba-tiba Seorang mahasis..ups maksudku wisudawati menegurku, “Pak, foto dulu bareng saya dan orang tua saya, ya…”

      Wah, aku laku juga ternyata Benar kan apa kubilang! Mestinya kami bikin tarif khusus sebagai model wisuda,…

      “Eh, Ninik. Selamat ya…” Ninik rupanya yang mengajakku berfoto bersama.

      “Terima kasih, Pak. Oh, ya. Ini Papa dan Mama saya. Pa, Ma, ini Pak Tigor…”

      Kami bersalaman. Kalau dipikir-pikir sebetulnya aneh juga kejadian ini. Lima tahun anaknya kuliah di tempatku bekerja, orang tuanya yang membiaya. Tapi hanya sekali aku sebagai dosen bertemu muka dengan orang tua mahasiswa. Itupun waktu wisuda!

      “Terima kasih atas semuanya, Pak.Ninik sering sekali cerita tentang Bapak,” kata Papanya.

      Aku jadi nggak enak, “Waduh, Semoga bukan cerita tentang kejelekan saya…,” tukasku, pura-pura merendah sih…buat meninggikan mutu…hahaha… (padahal, isu yang berkembang, si Ninik stress banget selama menghadapi aku sebagai dosen pembimbingnya…)

      Sebentar kemudian si juru kamera mengatur posisi kami. Klik,…,

      “Ganti posisi, Pak.” Kami kemudian bergeser. Lalu, Klik.

      “Sekali lagi, Pak.” Klik…tiga kali pengambilan.

      Yup selesai!

      “Sukses ya, Ninik. Sampai ketemu lagi!” kataku sambil berjabatan tangan.

      Dari kejauhan aku melihat mereka bertiga kompak banget…Senang rasanya lihat keluarga yang akur seperti keluarga itu,…adem…

      “Wah, kenapa aku jadi sok bijak ‘n lembut gini, ya???”

      Mendadak aku merasa teringat sesuatu, “Seperti ada yang aneh! Tapi apa ya?”

      “Mestinya ada hubungannya dengan Ninik. Ya, Ninik… Ninik???” Itu tadi kan Ninik yang papanya baru meninggal tiga bulan lalu? Trus tadi itu siapa, ya? Koq, Ninik bilang kalau itu Papanya?”

“Bisa jadi sih. Mungkin mamanya baru menikah lagi,”aku coba mereka-reka, “Tapi masa’ secepat itu?” Hipotesisku sepertinya tidak dapat diterima…

***

      “Pak, tadi ada orang tua wisudawan marah-marah lewat telpon,” cerita Pak Dar waktu ketemu di teras gedung U.

      “Wisudawan yang mana, Pak?”

      “Itu, bekas mahasiswanya Bapak. Mahasiswi, namanya Ninik?”

      “Ada masalah apa? Kan anaknya sudah wisuda?” tanyaku.

      “Tadi saya sampai dimaki-maki segala, Pak. Habis itu pakai ngancam lagi! Katanya kampus ini sudah mencemarkan nama baiknya.”

      Aku jadi penasaran,“Masak ibunya sekasar itu, Pak?

      “Bukannya ibunya, Pak. Tapi bapaknya…”

      “Pasti maksud Pak Dar bukan Ninik mahasiswa saya. Soalnya Ninik yang kenal bapaknya sudah meninggal,” rasa penasaranku sedikit memudar.

      “Justru itu, Pak. Saya masih ingat sama Ninik yang bapaknya sudah meninggal itu. Ternyata, Bapaknya masih segar bugar. Makanya dia marah waktu saya tanya, Bapak ini siapa, apa Bapak omnya Ninik.”

      “Trus…” walah, rasa penasaranku menyeruak lagi!

      Lanjut Pak Dar,“Saya ini Papanya!… kata orang itu.”

      “Trus, trus,…” ceritanya jadi seru sekarang…

      “Bapak jangan bercanda. Papanya Ninik sudah meninggal, Pak. Saya sendiri yang pasang pengumumannya di kampus…Itu yang saya bilang ke penelpon tadi. Setelah itu, habis saya dimaki-maki.” Pak Dar menarik nafas panjang.

***

      Rasa penasaranku masih berlanjut hingga sekarang kalau mengingat Ninik. Anak itu cukup misterius buatku.

      “Eh, Tia, sini sebentar.” Kupanggil salah satu mahasiswiku yang kebetulan lewat di dekatku.

      Tia datang menghampiriku, “Ada apa, Pak?”

Setahuku Tia adalah kawan baik Ninik. Mestinya dia tahu banyak hal tentang Tia. Aku sendiri cukup sering ngobrol sama Tia.

      “Saya mau tanya sesuatu. Nggak ada hubungannya sama kuliahmu, koq.”

      “Bapak pasti mau tanya tentang Ninik, kan?”

      Aku jadi heran, “Kamu koq bisa nebak? Kamu paranormal, ya?”

      “Bapak koq tahu kalau saya paranormal? Bapak paranormal juga, ya?” dia ganti meledekku….

      Tuturnya, “Beberapa hari yang lalu papanya ‘nelp ke kos-kosan saya, Pak. Saya dulu kan satu kos sama Ninik. Papanya cerita kalo Ninik kabur dari rumah sudah hampir satu minggu. Papanya ‘nelpon ke kampus pengen cari informasi tentang alamat Ninik terakhir di Surabaya. Saya bilang kalau saya nggak tahu. Saya memang bener-bener nggak tahu, Pak. Saya nggak berani bo’ong. Lagian apa untungnya saya bo’ong. Bo’ong itu kan dosa, Pak. Itu prinsip hidup saya. Orang tua saya ngajarin saya begitu dari kecil…”

      Wuih, gila juga nih anak! Bibirnya nggak bisa direm…

      “…Abis itu, Pak. Papanya juga cerita sambil meledak-ledak, ngeri kalo saya ingat nadanya, intinya dia ngerasa jengkel banget karena diberitakan sudah meninggal di kampus kita…” kulihat Tia berhenti sejenak, ambil nafas….

      Kesempatan untuk berbicara! “Kamu kenal, Papanya?” cepat-cepat kutanya sebelum dia memperpanjang cerpennya.

      Mukanya mendadak seperti orang o’on banget, “…Nggak, Pak…”

      “Bagaimana kamu yakin kalau laki-laki di telpon itu papanya Ninik?”

      “Ninik pernah cerita kalau dia punya dua papa. Yang satu papa beneran, udah cerai sama mamanya. Satu lagi papa bo’ongan alias tiri,” cerita si Tia sambil mencoba mengingat-ingat. Kulihat arah gerakan matanya, sesekali ke kanan atas, sesekali ke kiri atas. Yah, anak ini sedang mengingat atau sedang mengarang, ya?

      “Suatu ketika, kalau tidak salah waktu itu di kamarnya. Maaf lho, Pak. Ini seingat saya… mungkin benar, mungkin salah…dia cerita kalau dia sebenarnya nggak cocok sama papa tirinya. Mereka sering berantem, seingat saya begitu ceritanya…”

***

      Ninik dan keluarganya memang tidak pernah lagi menghubungiku ataupun kampus di mana Ninik pernah kuliah. Kawan-kawannya juga nggak pernah mendengar kabar sama sekali tentang Ninik. Satu-satunya hal yang masih mengganjal dalam otakku adalah selembar kertas ucapan belasungkawa atas meninggalnya papa Ninik.di papan pengumuman kampus ini.

      Ninik, Ninik. Siapa sih yang kamu bilang meninggal waktu itu????

October 7, 2009

Berlari…


Pagi itu seorang anak kecil, umurnya sekitar sepuluh tahun, terlihat berlari – lari kecil mondar mandir di gang tempat tinggalnya. Keringat sebesar butiran-butiran kacang merah mengucur deras di seluruh bagian tubuhnya (menurut tata bahasa FB…*Mode Lebai ON*). Tidak ada sedikitpun terpancar tanda-tanda kelelahan. Pandangannya lurus ke kiri atas (catatan: pandangan lurus khan tidak hanya ke depan???). Sesekali menoleh ke depan, mirip seorang atlit lari profesional yang sedang berkonsentrasi penuh di jalurnya.

Aktifitas si anak ternyata menarik perhatian tiga pria tua yang sedang ngobrol di sebuah kedai kopi, persis di pinggir jalan di mana si anak telah melintasi tempat itu untuk yang ke tiga kalinya.

“Anak itu memang terlalu gemuk. Pasti dia sedang mencoba menurunkan berat badan,” kata  seorang pria yang kurus sekali sambil berkali-kali menghisap rokoknya yang entah sudah keberapa pagi ini.

“ Gemuk? Anak itu sehat sekali! Ukurannya pas buat anak seumur dia! Dia berlari pasti karena menuruti nasihat gurunya supaya berolahraga tiap pagi.” bantah pria kedua yang ternyata seorang pensiunan guru olah raga sambil meniup gelas kopi keduanya yang baru saja datang.

“He…he…he…kalian berdua ini bisa saja. Anak itu memang belum gemuk. Tapi hampir. Anak sekarang kalau makan amit-amit rakusnya. Sudah ‘gitu,  suka membantah kalau dinasehati. Dia pasti anak yang bandel. Paling banter, anak itu sedang menjalani hukuman dari ayahnya,” kali ini seorang pria tua berkumis tebal ikut berargumentasi. Bekas-bekas kesangaran masih terlihat dari wajahnya yang mulai keriputan, “Neng, pisang gorengmu kok lama sekali sekali sih panasnya!” kata si pria itu sedikit membentak si Eneng pemilik kedai.

Si Eneng cuma tersenyum.

Kemudian kata pria perokok tadi kepada kedua temannya, “Menurut kalian, berapa kali lagi anak itu melewati tempat ini? Kalau menurutku, untuk menurunkan berat badan paling tidak dia akan berlari sekitar lima kali lagi”, pria kurus itu rupanya masih bersikukuh kalau si anak berlari karena obesitas.

“Lima kali? Pasti lebih! Anak-anak sekarang bandelnya luar biasa. Hukuman seringan itu tidak akan membuatnya berubah menjadi anak penurut!” komentar si pria berkumis, “Kalau dia anakku, aku suruh dia berlari sampai pingsan., biar jera!”

“Ah, kalian berdua ini selalu memandang banyak hal dari sisi negatif. Anak seperti dia sudah jarang ada di jaman ini. Bangun pagi, kemudian berolahraga. Saya yakin orangtua dan gurunya telah berhasil memotivasi dia. Bukan jumlahnya yang penting. Tapi semangatnya.” sang mantan guru rupanya tidak bisa menerima komentar kedua kawannya tadi. Setelah itu ia mulai menyeruput kopinya.

Entah mengapa, selanjutnya terjadilah perdebatan sengit antara mereka bertiga.Berangkat dari topik alasan di balik acara lari pagi seorang anak kecil, perdebatan menjadi merembet ke masalah nasional bahkan sesekali ke tingkat dunia. Isu-isu kegagalan pemerintah untuk membina olahraga di tanah air, KDRT dan hak-hak anak, makin amburadulnya sistem pendidikan nasional, pajak rokok dan keberadaan pabrik rokok ilegal, peranan wanita, isu ketenagakerjaan, rendahnya tingkat keamanan sistem transportasi, bahkan sampai isu lingkungan hidup seperti kasus lumpur panas Sidoarjo ikut diangkat. Kok bisa nyambung, ya?

Bayangkan! Tidak disangka, tidak dinyana, seluruh menteri dalam jajaran kabinet SBY-JK akhirnya ikut tersangkut dengan urusan si anak yang sedang lari pagi ini. Dan yang paling tidak mengenakkan, semua menteri –pada porsinya masing-masing- mereka putuskan ikut bersalah dan bertanggungjawab atas membanjirnya tetesan keringat si anak di pagi hari itu.

Entah sudah berapa banyak puntung rokok si pria kurus tadi berceceran di lantai, entah sudah berapa banyak gelas kopi kosong si pria mantan guru yang belum sempat dicuci berserakan di lantai dapur, entah sudah berapa kali si eneng mendapat bentakan dari si pria sangar, masih belum ada – atau mungkin tidak-  titik temu alias kata kesepakatan di antara mereka tentang latar belakang apa di balik acara pagi anak umur sebelas tahun tadi.

Diskusi yang benar-benar melelahkan! Demikian melelahkan hingga akhirnya mereka terdiam.

***

Tiba-tiba datang seorang Bapak bersama seorang anak yang sedang meringis kesakitan, “Neng, minta kopi satu ama teh atu’, ya!”

“Lho, ini kan anak yang lari-lari tadi? Kenapa kamu, Nak? Habis jatuh, ya” tanya si pria kurus. Dia yakin si anak pasti jatuh karena kehilangan keseimbangan waktu berlari. “Maklum, tubuhnya terlalu gemuk,” pikirnya.

“Sakit sedikit nggak apa-apa. Kalau mau jadi atlit terkenal musti terbiasa dengan rasa sakit!” hibur pria lainnya.

Si Bapak berwajah sangar hanya senyum-senyum kecil. Melihat kehadiran sang Bapak dan kondisi si anak, dia makin yakin kalau si anak memang sedang dihukum oleh Bapaknya.

Si anak hanya terdiam. Bapaknya dengan ramah menjawab,”Iya, dia tadi habis jatuh, Pak. Saya sebenarnya sudah meminta dia berhenti dari tadi. Tapi dia tidak mau.”

Si Eneng yang dari tadi sibuk bekerja di dapur, menyahut, “Sudahlah, Nak. Minta aja ke Bapakmu supaya dibelikan burung yang baru. Burungmu yang lepas itu, pasti sudah terbang jauh. Ngapain kamu capek-capek ngejar”

….

Surabaya, XX XXXX 20XX

STB Tambunan

September 28, 2009

Environmental Management Accountability

Filed under: Uncategorized, EMA


 

An example of environmental pollution cases re-reported by a mass media in East Java-Indonesia (28/2/07). Pollution comes from laundering and coloring activies of a textile company, suspected of containing Hazardous Materials. From the industrial sector classification, the authors estimate the pollution potential of going to damage the environmental quality of water (river) and the health of communities around the company, in the short term and long term. Several types of materials used by this industry sector, if not managed properly, allegedly a source of irritation to skin, eyes, respiratory, and digestive, while also potentially carcinogenic and other health problems for humans.

Waste treatment? Expensive?

From a business perspective, to pay for an activity that is not profitable is a wrong economical desicion and should be avoided. Waste, regardless of its form, is evidence of technical inefficiency as well as natural. Because the waste for a company is no more than the rest of the production (zero value), then the waste must be treated with measures directed at the internal zero cost. The problem now, the waste was potentially damaging the environment carrying capacity. The reduction of this effect to the limits of safety, in the context of sustainability development, is a corporate environmental responsibility, afterall. When these problems arise in a company, then a component of the company’s external costs will appear. External costs would be excessively burdensome to the company when the state and society -especially the global industrial community- consider this environmental responsibility as a corporate monetary obligation.

In the context of environmental management accounting (EMA), to meet the requirements of environmental health and safety imposed by the government and the normative "enforced" by society, a company should try to implement the Physical Environmental Management Accounting (PEMA) tools and principles, systematically (not only at the ends of the production process). Without integrating these; eco-friendly facilities will work ineffectively and very expensive.

In connection with the physical aspect of this, every company, especially manufacturing companies need to give special attention to the balance of material and energy flows (materials and enegy flow accounting). If the manufacturing companies find it difficult to use substitute materials, substitute energy, and the replacement process more environmentally friendly, at least, the company is recommended for concrete action in saving water and energy.

CSR accountability

A little illustration, because it felt its activities cause health problems in communities around the company, a manufacturing company established a medical clinic for the communities around the company and provide an annual health costs. Let’s just say the number of health care or health compensation amount used as indicators of Corporate Social Responsibility performance. If the numbers were getting bigger, does not automatically show social responsibility greater, if the company was still damage the environment.

If the indicators are vanishingly small, but on the other hand, more and more people who use these clinics as a very economical health facilities, the corporate social responsibilities need to get a thumbs-up.

Waste production invalueable possible, but clearly, the waste generated from a production activity that absorbs the cost of production so that there will always be a part of the costs absorbed by the waste. That’s why in the Environmental Management Accounting (EMA), waste is treated as an absorbent component cost. Waste itself is priceless. But the truth is more important to understand, the more waste produced by a company, actually prove the more physical and monetary losses suffered by the company due to internal and external factors.

by Tigor Tambunan - EMA Trainer

September 27, 2009

Jam Tangan

      Menurutku, jam tangan atau dasi sama saja maknanya. Sama-sama mengikat! Sama-sama simbul pengekangan! Yang satu di leher, satu lagi di tangan.

      Terserah kalau beberapa pria menganggapnya sebagai lambang kejantanan, bagian dari metroseksualitas, modernitas, lifestyle, etc. Aku tetap tidak terpengaruh!

***

      (Sepertinya) aku tidak pernah mendengar suara ketukan di pintu ruangan kerjaku, tahu-tahu pintu ruanganku terbuka sedikit.

      Sebuah “kepala” berwajah ceria nongol di sela-selanya.

      “Siang, Pak! Lagi repot, ya!”

      “Oh, kamu. Iya, saya lagi repot.” Aku benar-benar lagi super sibuk beberapa hari belakangan ini. Jadual penyerahan makalah untuk seminar nasional tinggal dua hari lagi. Celakanya! Aku salah lihat tanggal!

Sebenarnya sih lebih parah.Aku lupa membalik kalender!

      “Syukurlah kalau begitu. Berarti saya datang pada saat yang tepat, dong.” Mahasiswiku yang satu ini memang cueknya ampun-ampun. Masuk, langsung duduk. Setelah duduk, dia baru ngomong, “Saya boleh duduk, Pak?”

      “Nggak boleh!” kataku pura-pura berwibawa sambil tetap melihat monitor komputer.

      “Pemandangannya bagus juga dari lantai empat ini ya, Pak! Apalagi AC-nya adem. Pantes Bapak kerasan di ruangan,” mulutnya nyerocos terus.

      “Selera musik Bapak koq kayak gini? Pasang musik yang keren dikit dong, Pak!”

      Arek edan! Berani-beraninya dia menghina lagu-lagu Europe nan penuh semangat yang sedang bergema di ruanganku!

      Biarlah! Aku benar-benar sedang konsentrasi. Dengan sangat terpaksa, dia kucueki. Sekarang bukan saat yang tepat untuk tersinggung! Tersinggung hanya akan menghabiskan energi….

      “Bapak benar-benar sibuk, ya?”

      “….@#*%”:&*(^%$… dasar mahasiswa!” kataku dalam hati, “Iya, Non! Saya lagi sibuk! Ada apa sih?” pertanyaan isengku yang pertama.

      “Yah, maunya sih ngobrol-ngobrol sebentar dengan Bapak…”

      “Hmmm…ya ngomong aja, saya dengar koq…,” komentarku ala kadarnya.

      “Ya, nggak jadi…”

      “Kenapa?” tanyaku -ini juga pertanyaan iseng-

      “Bapak sedang kerja sih…Koq nggak seperti biasanya, Pak?” sambungnya.

      “Maksudmu?”, sejenak tarian jariku di atas keyboard komputer terhenti…harga diriku sedikit tersentuh nih ceritanya.

      “Biasanya Bapak khan nganggur”

      Hah!!! Keterlaluan! Koq dia bisa tahu kebiasaanku, ya!

      “Enak saja kamu bilang begitu! Saat ini saya tetap konsisten dengan kebiasaan saya….” Aku harus meluruskan persepsinya. Aku tidak mau sampai tersebar berita kalau aku punya kebiasaan baru…hehehe…

      “Lha itu, Bapak koq ngetik!”

      “Ini maksudmu, kalau ini sekedar menjalankan hobby sesaat….”

      “Ooowww….”

      Sebuah bungkusan kecil dia ambil dari tasnya, ditaruh di atas mejaku. “Pak, ini kenang-kenangan dari saya.”

      “Wah, dalam rangka apa nih?” Kejadian ini benar-benar sebuah hal baru buatku! Sesaat kuhentikan “hobbyku” tadi.

      “Bapak kan dosen pembimbing Tugas Akhir saya.”

      “Lalu apa hubungannya dengan bungkusan ini?” Aku benar-benar nggak ngerti.

      “Saya sebentar lagi wisuda, Pak. Berarti Bapak kan tidak mengajar saya lagi. Kita jadi jarang ketemu. Jadi, biar Bapak tidak lupa sama saya, saya sengaja ngasih kenang-kenangan buat Bapak”

      “Oh, begitu. Boleh saya buka?” Aku jadi penasaran sama isinya.

      “Jangan sekarang, Pak! Nanti aja kalau saya sudah keluar dari ruangan Bapak,” pintanya.

      “Ok, terima kasih banyak, ya!”

      “Sama-sama, Pak. Sekali lagi, makasih ya, Pak!” katanya sambil membuka pintu dan keluar dari ruanganku.

      “Maksud saya, terima kasih karena kamu mau cepat-cepat keluar…hehehe…”

      Dia cuma nyengir.

      Ketikan kulanjutkan….dan The Final Countdown kembali bergema di ruanganku…

We’re leaving together

But still it’s farewell

And maybe we’ll come back

To earth, who can tell?

I guess there is no one to blame

We’re leaving ground

Will things ever be the same again?

It’s the final countdown

***

      Jam komputerku menunjukkan jam 16.00…Wah! Sudah mendekati jam pulang. Tiba-tiba aku teringat dengan bungkusan kecil dari mahasiswiku tadi…

      Bungkusan itu kubuka. Isinya….JAM TANGAN!!!  Dan sebuah kertas kecil dengan tulisan, “Dipake ya, Pak!”

      Hahh!!!!

September 18, 2009

DASI…OH DASI…(11 tahun yang lalu)

Aku lihat jam di mobilku. Hmmm….masih pukul 07.56 pagi sih sebenarnya!
      Bukan karena aku karyawan baru, bukan bermaksud pamer di depan kawan-kawan dosen lain, apalagi mau cari muka ke atasan,  aku datang sepagi ini karena kebiasaan di tempat kerja yang lama masih ‘nyangkut sedikit di badanku. Ya, meski tinggal lima sampai sepuluh persen lah!
      Pagi ini -tepatnya jam 08.00- adalah jadualku mengajar mata kuliah Manajemen Pemasaran.
      Pemandangan di kelas terlihat lain dari biasanya. Mirip kumpulan para eksekutif muda..hehehe….Soalnya, semua mahasiswa kuwajibkan pake dasi.
      Beberapa terlihat sangat kikuk. Beberapa lagi kelihatan sangat pede. Lebih tepatnya kepedean. Bayangkan! Dasinya kuning, bergambar Mickey Mouse, bajunya lengan pendek berwarna merah menyala. Celananya? Jeans belel…kombinasi yang sangat aduhai!!!! Wkwkwkwk…
      “Bagaimana rasanya pakai dasi?” tanyaku, iseng aja.
      “Gatal, Pak!” seseorang nyeletuk keras.
      “Pak, pake dong dasinya seperti kami,” usul seorang mahasiswa lainnya. “Enak aja! Emangnya saya salesman!” gurauku.
***
      Kebetulan tugas hari ini adalah presentasi strategi pemasaran. Suasananya meriah banget! Penuh dengan gelak tawa. Ribut banget pokoknya! Padahal, di kanan kiri kelasku masih ada kuliah dosen lain.
“Pasti nanti ada komplain waktu rapat dosen,” pikirku, “Biar sajalah. Komplain urusan belakang. Yang penting mahasiswa mendapat pengalaman baru. Learning by doing, experential learning, or apapun  lah istilahnya. Aku percaya banget dengan efektifitas konsep belajar yang satu ini!”
      Presentasi baru, kurang lebih sepuluh menit, kulihat dua pasang kaki berhadap-hadapan di balik pintu kaca tempatku mengajar. Bagian lutut ke atas tidak terlihat, karena ditutupi lapisan buram….Hmmm…ada apa gerangan, ya??
      Presentasi kuhentikan sejenak, akupun berjalan menuju pintu…….
      Pintu kubuka….
Dan….
Tawapun seketika meledak dari kelasku….
      Dua mahasiswa di depan pintu tadi terperanjat. Tidak dapat menyembunyikan kekagetannya.
      Keduanya ternyata sedang saling mencoba membantu mengenakan dasi.  Dan…hasilnya gatot alias gagal total!
      “Kenapa tidak pakai dari rumah?” tanyaku sambil tertawa geli melihat model ikatan “mati” yang mereka buat dileher…Dalam hatiku, “Waduh, jangan-jangan dasi itu mesti mereka gunting dulu biar bisa lepas…”
      “Malu, Pak.”
      Ada-ada saja! Lalu mereka kusuruh masuk dengan model dasi ala kadarnya di dalam kelas.
      Presentasi dilanjutkan.
***
      Ketika jam menunjuk angka 09:20, tiba-tiba terdengar suara ketukan.
      “Masuk!” kataku. Makhluk di balik pintu tidak bereaksi. “Silakan masuk!” kuulangi dengan volume suara yang lebih keras. Tak juga ada reaksi.
      Aku berjalan menuju pintu. Pintu kubuka. Sesosok mahasiswa dengan dandanan yang super amburadul kulihat berdiri lemas. Ujung dasi yang kecil terlihat lebih panjang daripada ujung yang besar. Bajunya basah, penuh keringat. Bau badannya yang demikian tajam langsung  menyergap hidungku. Wajahnya terlihat sangat pucat!
Wuih!!! Anak ini pasti sedang stres berat!
      “Kenapa nggak masuk? Kan sudah saya suruh masuk tadi? Ayo duduk.” Kudengar ada beberapa anak yang ketawa kecil di bagian belakang kelas…
      Mahasiswaku tadi akhirnya masuk.
      “Kenapa baru datang? Kelompokmu sudah selesai presentasi, lho.”
      “Sa…sa…saya nggak bisa pakai dasi, Pak,” jawabnya terbata-bata, memelas sekali wajahnya.
      Kontan suara tawa membahana (lagi) di dalam kelas.
      “Sana, gabung dengan kelompokmu. Nanti kamu yang bagian presentasi, ya!”
      Sengaja aku kerjain dia.
      “Bagaimana kelompok tiga. Setuju dengan usulan saya?”
      “Setuju banget, Pak!” Serentak empat orang anggota kelompok tersebut menyahut. Si mahasiswapun makin lemas.

      Dasi, oh dasi!






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer