STB Tambunan’s…

October 5, 2011

Hidup itu rekayasa :)

A: Kerjaanmu koq tidur terus, sih?

B: Mengikuti lanjutan mimpiku sebelumnya

A: Hah? Emangnya mimpi bisa direkayasa?

B: Ya bisalah, tidurku kan juga rekayasa

A (dalam hati): Pertanyaanku juga rekayasa koq…

 

~Life is Engineering by Tigor Tambunan~

August 5, 2011

Memeriksa = Mencari Kesalahan?

Filed under: Uncategorized

Seharian, seorang manajer memeriksa catatan salah satu anak buahnya.
Manajer yg lain bertanya, "Apa sih yang sedang kamu cari?"
Jawabnya,"Kesalahannya!"
Sang kawan:"Hah!!! Buat apa????"
Jawab:"Kalau dia benar semua, BERARTI AKU TIDAK ADA GUNANYA…" ….:)

~mesakne tenan wong sing koyok ngene yo, Rek…pikiran’e negatippp terus~

August 3, 2011

Gangguan (kecil) Diperlukan

Filed under: Uncategorized

Kesal melihat sang kakek hanya mengibaskan tangan saat beberapa ekor nyamuk hinggap di tangannya, sang cucu menghampiri sambil bawa penyemprot nyamuk,"Kek, pakai ini saja, biar semuanya mati"

Sambil tersenyum Sang Kakek menjawab,"Tidak perlu MEMUSNAHKAN untuk MENYINGKIRKAN gangguan-gangguan di sekitar kita. Gangguan kecil bahkan kadang2 kita perlukan utk membuat kita tetap terjaga"

~Surabaya, 3 Agustus 2011~

June 11, 2011

Bisnis Bali: Harmonisasi Pendidikan dan Dunia Usaha


Bisnis Bali, 9 Juni 2011

Harmonisasi Pendidikan dan Dunia Usaha

Oleh Tigor Tambunan

 

Sebuah kebetulan saja Hari Pendidikan Nasional kita jatuh bersebelahan dengan Hari Pekerja Sedunia. Tapi kalau keterkaitan antara subjek dan objek dalam kedua hari peringatan tersebut, pasti bukan kebetulan. Secara teoritis, hubungan kedua dunia ini akan kian “akrab” seiring dengan kemajuan peradaban sebuah masyarakat.

Dunia kerja (dunia usaha) akan makin membutuhkan dunia pendidikan dalam proses pembentukan kualitas sumber daya manusia dalam kuantitas tertentu, dunia pendidikan akan makin membutuhkan dunia usaha sebagai penyerap sumber daya manusia terdidik yang mereka hasilkan.

Di tengah saling ketergantungan tadi, ternyata masih terus beredar isu (baca: hasil penelitian) tidak sedap yang menunjukkan tingginya angka pasokan angkatan kerja berpendidikan yang tidak terserap dunia kerja. Kabar ini makin menusuk dunia pendidikan ketika “tertuduh utamanya” justru dunia pendidikan. Sistem pendidikan kita di berbagai jenjang dituding beberapa pihak tidak mampu menghasilkan manusia-manusia dengan kualitas yang diharapkan dunia usaha.

Kualitas sumber daya manusia acapkali dituduh sebagai penyebab utama produk-produk dalam negeri menjadi tidak kompetitif. Keahlian yang tidak memadai, disiplin kerja yang relatif rendah, dan minim inisiatif seolah menjadi ciri khas pekerja Indonesia . Produktivitas rendah menjadi alasan dibalik pemberian upah minimum yang sangat minim. (Sekali lagi) “Ini semua karena ketidakmampuan dunia pendidikan!“ Benarkah?

Disharmonisasi Informasi

Mari kita lihat beberapa fakta berikut. Siswa-siswa lulusan SMA berburu jurusan-jurusan - di perguruan tinggi - yang sedang naik daun karena aktifitas promosional lembaga penyelenggara pendidikan, bukan dunia usaha. Padahal lembaga-lembaga pendidikan-bahkan bisa dibilang seluruh jenjang — tidak memiliki informasi yang akurat dan presisi tentang kebutuhan tenaga kerja.

Kebutuhan yang diketahui dunia pendidikan adalah angka dan spesifikasi kebutuhan tenaga kerja saat ini, bukan kebutuhan empat lima tahun ke depan. Itupun data-data sekunder yang sifatnya sangat umum. Artinya, kalau pun bermanfaat, informasi kebutuhan tenaga kerja — versi lembaga pendidikan — tersebut hanya bernilai bagi mahasiswa yang akan jadi sarjana tahun ini atau satu dua tahun ke depan (pada bidang ilmu yang bersesuaian). Bukan bagi siswa SMA yang akan lulus dan menjadi mahasiswa tahun ini.

Celakanya lagi, jika dua atau tiga tahun yang lalu, jurusan ini masih sepi peminat/sepi penyelenggara, akan muncul kesan di masyarakat luas bahwa permintaan terhadap lulusan dengan kompetensi yang dimaksud tadi menjadi makin luar biasa besarnya ( undersupply) . Kelatahan masal pun terjadi! Banyak lembaga pendidikan berbondong-bondong mendirikan jurusan tertentu, dan masyarakat berduyun-duyun mengarahkan anaknya untuk mempelajari bidang ini.

Terlintas sebuah pemikiran, mengapa dunia usaha tidak ikut mencoba/memperbanyak frekuensi terjun lebih dini ke dunia pendidikan khususnya di jenjang pendidikan menengah atas (baca: tidak hanya pada pendidkan vokasional seperti SMK atau BLK, tapi juga SMA). Kegiatan informasional ini sangat efektif untuk menunjukkan kebutuhan riel dunia usaha terhadap sumber daya manusia (dimensi kuantitas dan kualitas) khususnya pada tiga sampai lima tahun ke depan, di wilayah di mana dunia usaha beraktifitas (dimensi waktu dan tempat).

Informasi-informasi semacam ini bisa menjadi panduan para siswa SMA untuk memilih jurusan yang tepat di perguruan tinggi yang tepat. Informasi semacam ini jauh lebih sahih dibanding informasi promosional lembaga-lembaga pendidikan. Kalau informasi semacam ini baru diberikan perusahaan kepada mahasiswa perguruan tinggi jelas sudah sangat terlambat.

Seseorang yang sudah berstatus mahasiswa adalah manusia yang sudah menentukan arah masa depan kehidupan ekonominya. Dan arah tersebut bisa saja sangat salah kalau dasar pemilihan bidangnya tidak mempertimbangkan kebutuhan dunia kerja, apalagi hanya atas dasar minat individual dan tren! Pada jalur pendidikan tinggi, yang bisa dilakukan oleh masyarakat berstatus mahasiswa adalah memaksimumkan kecakapan di bidangnya dan mencoba untuk menjadi lebih baik dibanding orang lain (baca: peran dunia pendidikan). Peran dunia usaha? Membantu mengasah kecakapan mahasiswa melalui penyediaan fasilitas praktek kerja industrial.

Daya dongkrak ekonomi

Berbekal hasil pendidikan, seseorang yang tadinya tidak bekerja menjadi bekerja. Paling tidak, waktu tunggu untuk memperoleh pekerjaan menjadi lebih pendek. Dan seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Federman dan Levine (2005), didukung hasil proses pendidikan yang dialaminya, seseorang mestinya akan memperoleh penghasilan lebih besar dibanding sebelum mengenyam pendidikan.

Berpijak pada jenis dan tingkat pendidikan yang dimiliki, seseorang seharusnya dapat bekerja sesuai dengan bidang pendidikan yang ditekuninya, asal pemilihan bidang pendidikan didasarkan pada kebutuhan dunia kerja di masa yang akan datang (baca: bukan pada tren pendidikan atau preferensi pribadi semata). Selain itu, pendidikan seharusnya juga menjadi tambahan “modal“ yang sangat besar bagi para calon wirausahawan.

Seseorang yang berwirausaha dengan modal tambahan pendidikan memiliki kekuatan sosial ekonomi yang lebih besar dibanding yang tidak berpendidikan sederajat pada kekuatan finansial yang sama. Menurut Simanjuntak (1998) dalam bukunya “Pengantar Ekonomi Sumberdaya Manusia”, tenaga kerja terdidik memiliki produktivitas kerja lebih tinggi daripada yang tidak terdidik. Karena itu, pendidikan harus membuat kondisi dunia usaha menjadi lebih baik.

Seperti memasuki rimba raya yang tak berpangkal dan berujung, harmonisasi sistem pendidikan terhadap dunia kerja adalah proses yang sangat kompleks dan dipenuhi liku-liku tak terduga.

Butuh waktu lama untuk mendapatkan kondisi jumlah dan kualitas pasokan angkatan kerja berpendidikan yang tepat, di saat dan di lokasi permintaan yang tepat. Pendidikan harus mampu menunjukkan kontribusinya dalam memperbaiki membuat kondisi sosial ekonomi masyarakat secara nyata. Kalau tidak, ungkapan miring bahwa bersekolah tidak berguna bisa menjadi benar adanya.

*Penulis adalah Dosen Teknik Industri STTS dan peneliti pada Program Penyelarasan Kemdiknas

 http://bisnisbali.com/2011/06/09/news/opini/x.html

June 5, 2011

Icon XYZ hilang?

Icon sistem koordinat di pojok kiri bawah MasterCAM hilang?

 Icon XYZ hilang?

Untuk memunculkannya kembali lakukan langkah-langkah berikut:

1. Klik Main Menu> Screen> Configure

2. Pada kotak dialog System Configuration pilih tab Screen,

3. Klik Display viewport XYZ axes.

System Configuration 

4. Klik Ok.

5. Save settings to configuration file? Klik Yes.

Selamat mencoba!

May 31, 2011

Nugget Jamur de Tambs (vegan dan non-vegan)

Rumah Jamur de Tambs-Surabaya menyediakan nugget jamur vegan (100% bebas bahan hewani dan bebas bawang) dan non-vegan. Terbuat dari jamur segar pilihan, 100% organik, bebas pengawet dan penyedap buatan.

Harga: Rp 9.000/ seperempat kg (baik untuk vegan maupun non-vegan).

Untuk pemesanan, silakan hubungi: 031-60220876.

~Ketagihan atau tidak kebagian, mohon dimaafkan…emoticon~

Nugget Jamur de Tambs 

May 27, 2011

Bisnis Bali: Miniaturisasi Industrial

Bisnis Bali, 27 Mei 2011

MINIATURISASI INDUSTRIAL

Oleh Tigor Tambunan

Pertumbuhan jumlah angkatan kerja yang cukup besar pada kondisi pertumbuhan industri yang relatif stabil (baca; penyerapan angkatan kerja “terlihat” rendah) bisa saja dibaca secara salah sebagai bagian dari proses deindustrialisasi.

Pengamatan secara parsial atas gejala hilangnya satu atau beberapa sektor industri akibat perpindahan konsentrasi industrial dari satu wilayah ke wilayah lain juga dapat disalahartikan sebagai deindustrialisasi nasional kalau tumbuhnya sektor industri baru di daerah yang ditinggalkan tidak teridentifikasi dengan benar.

Penggunaan teknologi yang lebih efisien, yang di satu sisi mengakibatkan pengurangan jumlah tenaga kerja berkeahlian rendah namun sebenarnya di sisi lain mengakibatkan penyerapan tenaga kerja berkeahlian tinggi — meski dalam jumlah yang lebih kecil — juga bisa ditangkap oleh sebagian orang sebagai gejala deindustrialisasi.

Secara sederhana, deindustrialisasi diterjemahkan sebagai pengurangan aktivitas atau kapasitas produksi industri manufaktur di sebuah wilayah atau negara dalam jangka panjang.

Namun, tidak selalu gejala penurunan aktivitas menjadi bagian dari gejala deindustrialisasi. Apalagi kalau gejala-gejala tadi bersifat insidental dan terjadi dalam rentang waktu relatif pendek. Serangan produk Cina pascapelaksanaan ACFTA, misalnya, sudah pasti akan mempengaruhi dinamika aktivitas industri manufaktur dalam negeri.

Demikian pula urusan instabilitas pasokan energi industrial, masuknya tenaga kerja asing (TKA), dan sebagainya. Bermacam-macam reaksi industrial, termasuk penurunan aktivitas atau kapasitas produksi di beberapa sub-sektor manufaktur atas kondisi-kondisi tadi sebenarnya merupakan proses adaptasi situasional. Reaksi semacam ini bahkan bukan tidak mungkin melahirkan industri-industri baru (industrialisasi sektoral).

Miniaturisasi

Pembangunan ulang industri (reindustrialisasi) padat karya memang akan mengurangi masalah pengangguran, tapi sangat sementara sifatnya. Selain masalah upah minimum yang sangat rendah, rawan demo pekerja, yang ujung-ujungnya membuat produktivitas terjun bebas, sejarah perkembangan industri manufaktur di tanah air menunjukkan produk kita mudah sekali “patah” dihantam produk-produk asing yang jauh lebih murah tapi inovatif.

Industri padat karya hanya jadi obat penenang yang sesaat sifatnya. Dalam persaingan industrial yang demikian sengit, kita tidak dapat mengandalkan tenaga manusia berkeahlian rendah untuk menghasilkan produk-produk berkualitas tinggi dengan kecepatan produksi yang tinggi dan kapasitas optimal.

Di era 2000-an ini, tampilan fisik sistem produksi menjadi jauh lebih kecil dibanding era 1980-1990an. Hebatnya, kapasitas produksinya makin besar. Mesin-mesin sekarang bahkan dirancang untuk melakukan beberapa fungsi manufaktur sekaligus secara berkesinambungan. Jarak transportasi material di tempat kerja menjadi jauh lebih pendek.

Otomatisasi industrial berhasil menekan berbagai bentuk penundaan (contoh: memperpendek waktu pengaturan peralatan produksi dan waktu antrian). Dengan fleksibiltas kapabilitas proses yang sedemikian, pemilik teknologi-teknologi mini bisa lebih bebas memainkan kapasitas produksinya. Para pemilik modal tidak perlu repot-repot mencari kawasan industri khusus. Kalau perlu usaha dijalankan di kawasan hunian. Yang penting, pasokan energi (khususnya listrik) terpenuhi.

Dari sisi jumlah pekerja, perusahaan semacam ini dikategorikan UKM. Tapi dari sisi modal, kualitas dan kuantitas output, mereka sebenarnya termasuk perusahaan menengah ke atas. Fakta penting, jumlah perusahaan semacam ini tumbuh subur di kota-kota besar di Indonesia dan -ini dia- belum terdata dengan akurat! Istilah “miniaturisasi industrial” nampaknya lebih tepat daripada deindustrialisasi untuk menggambarkan situasi industri kita saat ini.

Ada kalanya jumlah perusahaan pendatang baru ( new entry ) dalam sektor industri manufaktur lebih sedikit dibanding jumlah perusahaan yang tutup atau keluar dari sektor industri.Tapi perubahan output produksinya tidak selalu linier dengan perbedaan jumlah perusahaan yang keluar dan masuk dari industri tadi.

Teknologi terbaru memungkinkan output sebuah perusahaan baru — yang ukurannya relatif kecil — menjadi lebih besar dari akumulasi output dua atau tiga perusahaan yang keluar dari industri yang bersesuaian. Terjadi perampingan jumlah perusahaan dan jumlah penyerapan tenaga kerja, tapi output perusahaan secara individual meningkat tajam.

Strategi padat modal

Dua motivasi utama di balik proses industrialisasi dalam sebuah negara adalah mempercepat proses penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Keberhasilan proses industrialisasi dipengaruhi banyak hal.

Dari dalam negeri, kualitas sumber daya manusia, kompleksitas birokrasi, serta ketersediaan dan kualitas infrastruktur adalah tiga faktor penting yang saling berinteraksi. Dari luar, paling tidak ada dua, perkembangan teknologi dan produk.

Terkait dengan dua faktor dari luar tadi, pemerintah tidak boleh ragu menjalankan deindustrialisasi berorientasikan strategi padat modal. Kebijakan penggunakan teknologi tinggi jangan lagi berorientasikan pada penyeimbangan kapasitas mesin dan ketersediaan sumber daya manusia yang melimpah.

Kawasan atau sub-sektor industrial yang memang sudah waktunya menggunakan teknologi tinggi (agar menghasilkan kontribusi nilai ekonomi secara maksimum) harus dipasok dengan teknologi yang tinggi meskipun berada di kawasan padat angkatan kerja.

Lompatan revolusi industrial perlu dilakukan bukan semata-mata untuk “menyegarkan” industri yang selama ini berada dalam kondisi antara hidup dan mati. Tidak juga sekadar strategi spekulatif untuk mencari kemungkinan menghidupkan kembali industri-industri manufaktur yang sudah mulai ditinggalkan oleh negara-negara yang sudah beralih ke sektor jasa.

Deindustrialisasi merupakan tindakan yang serius untuk mentransformasi pengetahuan-pengetahuan terbaru dan mengadopsi teknologi-teknologi terkini. Mekanisasi dan otomatisasi menjadi kebutuhan mutlak.

Sikap mental optimis mesti dibangun dalam menghadapi isu deindustrialisasi. Tidak ada sebuah negara yang memiliki kemampuan optimal di seluruh sub-sektor industri manufaktur. Selalu ada sub-industri yang lemah di sebuah negara, di negara paling maju sekalipun. Perusahaan skala besar yang sudah berada di “zona nyaman” bisa saja mengalami tekanan ekonomi yang sangat besar dalam situasi seperti sekarang ini.

Sebaliknya, perusahaan skala kecil menengah, yang memang pada dasarnya dituntut untuk kreatif secara terus menerus, justru berpotensi menangguk keuntungan yang luar biasa. Apalagi kalau mereka jeli melihat kemampuan teknologi yang diminiaturisasi.

visit: http://bisnisbali.com/2011/05/27/news/opini/x.html

March 12, 2011

Dia ngajar di mana, ya???

Secara kebetulan, sepeda motorku berhenti sejajar dengan sebuah mobil mewah berplat B di sebuah traffic light.
“Hebat sekali mobil ini!” pikirku.

Kacanya yang tembus pandang membuat aku bisa melihat dengan jelas wajah sang pengemudi.
Seorang pria. Penampilannya biasa-biasa saja.
Umur? Nggak beda jauhlah denganku.

“Hmmm….koq bisa dia beli mobil seperti ini, ya?“ dalam hati aku bertanya.
“Kira-kira dia ngajar di mana, ya, sampai bisa beli mobil sebagus itu? “
Mohon maklum, aku kan seorang dosen….:)

Aku baru sadar, kalau paling tidak ada dua orang lain di sekitarku yang memperhatikan mobil itu.
Satu, seorang penjual koran, satu lagi, seorang tukang becak.
Kelihatan jelas kekaguman memancar dari wajah mereka.

Hmmm….rasa-rasanya mereka punya pikiran yang mirip denganku.
“Jualan koran di mana ya orang ini?“ pasti itu yang ada di pikiran si penjual koran.
“Mangkal di mana ya orang ini?“ pertanyaan itu sepertinya yang muncul di benak si tukang becak.

…..sekedar refleksi diri…..

October 26, 2010

Program NC untuk Contour Toolpath (by MasterCAM)

Berikut ini adalah contoh sebuah contour toolpath berbentuk kotak berukuran 30mmx20mm, yang diletakkan di "center" sebuah bahan berukuran 40mmx30mmx5mm. Bentuk contour toolpath tersebut dibuat dengan menggunakan perintah Create>Rectangle di MasterCAM Versi 9.

Rectangle (30 x 20) 

 Tool yg dipilih untuk memotong contour tersebut adalah drill tool berdiameter 2 mm. Spindle speed: 5000 RPM. Feedrate: 400mm/ menit.

 Hasil simulasi pemotongan (contour toolpath) pada MasterCAM adalah seperti gambar berikut:

 Hasil simulasi

Sedangkan program NC (Numerical Control program) hasil post processing MasterCAM (dengan post processor MPFAN) adalah sebagai berikut:

%
O0000
(PROGRAM NAME - T)
(DATE=DD-MM-YY - 25-10-10 TIME=HH:MM - 18:18)
N100 G21
N102 G0 G17 G40 G49 G80 G90
( 2. DRILL TOOL - 1 DIA. OFF. - 1 LEN. - 1 DIA. - 2.)
N104 T1 M6
N106 G0 G90 X0. Y0. A0. S5000 M3
N108 G43 H1 Z20. M8
N110 Z10.
N112 G1 Z-2. F100.
N114 X30. F400.
N116 Y20.
N118 X0.
N120 Y0.
N122 G0 Z20.
N124 M5
N126 G91 G28 Z0. M9
N128 G28 X0. Y0. A0.
N130 M30
%

Selamat mencoba!

 

September 19, 2010

SPION

 

Dalam perjalanan pulang dari sebuah tempat wisata, seorang pria pemilik mobil mendadak memutar kendaraannya 180° dan menjalankan mobilnya mundur secara perlahan.

“Mas, koq jalannya mundur?” tanya salah satu rekan seperjalanannya.

“Iya, nih. Saya masih ingin lihat pemandangan tempat wisata tadi,” jawab si pria pengemudi.

“Hati-hati lho, Mas. Nanti bisa nabrak.”

“Tenang saja. Kan ada spion….“

… Beberapa detik kemudian…

…BRAAAAAKKKKK….tebak sendiri apa yang terjadi…

( ….Hehehe lebay banget ceritanya, ya :D …) …

Meski mobil kita bisa berjalan mundur,

meski kita bisa menggunakan spion untuk melihat hal-hal yang ada di belakang kita,

sangat tidak layak kalau kita menggunakan kedua fasilitas tadi untuk menjalani jalan panjang yang terbentang di depan kita.

Berjalanlah ke depan dengan tetap melihat ke depan,

bukan “berjalan mundur” ke depan sementara mata terus tertuju ke belakang.

Seindah atau sejelek apapun hal-hal yang ada di masa lalu kita,

biarlah itu tetap menjadi bagian dari masa lalu,

yang sudah terjadi dan tidak bisa diapa-apakan lagi.

Kalau keinginan untuk melihat masa lalu tetap tidak tertahankan,

gunakan “spion kehidupan Anda” untuk melihatnya,

bukan menolehkan "kepala" ke belakang!

Ingat! Apa yang Anda lihat lewat spion kehidupan tadi, lama-lama akan hilang seiring menjauhnya kita dari masa lalu.

Berbahagialah ketika hal itu terjadi!

Dan, ingat! Jangan cari spion yang lebih besar, berjalan mundur, apalagi berbalik untuk kembali ke masa lalu….






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer