BENCANA ALAM DAN EKONOMI SIMPATI
Masih terang dalam ingatan saya, tepat beberapa hari setelah kudeta “damai” terhadap pemerintahan Thaksin beberapa tahun lalu, saya dan rekan-rekan dari Indonesia sempat menikmati makan malam di atas sebuah kapal pesiar yang cukup megah sambil perlahan melintasi sungai Chao-Praya. Suasana di atas kapal benar-benar meriah. Pemandangan tepi sungai yang kami lalui terlihat demikian indah dan tenang, jauh dari gambaran berita yang dihembuskan oleh sebuah radio swasta Indonesia yang kebetulan saya dengar secara on-line (via internet) sehari setelah junta militer di bawah pimpinan Jenderal Shonti mengambil alih pemerintahan. “Ekonomi Thailand terguncang, Bath diperkirakan bakal anjlok!” demikian kata pewarta dari radio tersebut. Terus terang, saya tidak paham dengan istilah guncangan ekonomi versi radio tadi. Yang jelas, sebagai orang Indonesia yang datang dengan uang saku pas-pasan, mega bencana politik di Thailand kala itu ternyata sama sekali tidak menghalang-halangi keleluasaan saya untuk mencicipi berbagai makanan Thailand yang memang maknyus untuk lidah saya, termasuk durian ketan dan tom yum-nya. Saya masih dapat menaiki sky-train dengan biaya yang kalau dipikir-pikir sangat murah. Dengan hanya sekitar 25 Bath (Rp 7500) saya dapat menikmati teknologi tranportasi yang sangat cepat, sangat bersih, bersama-sama penumpang-penumpangnya yang sangat tertib! Dalam keadaan ekonomi yang “terguncang” ekonominya saja, saya sebagai orang asing dapat menikmatinya, bagaimana kalau stabil? Memang sih, selama di kapal badan kami sempat terguncang-guncang, pasalnya si penyanyi yang semula kami pikir sedang menyanyi sebuah lagu Thailand yang mirip dengan lagu Bengawan Solo, ternyata benar-benar sedang menyanyikan lagu Bengawan Solo dalam bahasa Indonesia. Habis, pelafalannya lucu sekali!
***
Saya hanyalah orang biasa yang tahu sedikit sekali tentang hal-hal berbau ekonomi. Salah satu istilah ekonomi yang demikian melekat dalam pikiran saya kalau dihubung-hubungkan dengan negeri kita ini adalah istilah ekonomi pembangunan. Perdebatan seputar kondisi perekonomian Indonesia oleh para ahli ekonomi-politik kita sedikit banyak cukup membingungkan saya. Ada yang menyebut telah terjadi perbaikan (pertumbuhan), ada yang ngomong stagnan, tapi tidak sedikit yang mengatakan telah terjadi kemunduran. Semuanya punya indikator-indikator yang mampu mengkonfirmasi pendapat mereka masing-masing. Saya bukan ahli ekonomi, karena itu saya tidak pro siapa-siapa. Pro pun tidak ada untungnya buat saya. Saya hanya mencoba menganalogkan istilah situasi ekonomi di negeri ini dengan situasi ekonomi “individual” yang saya kisahkan di awal tulisan ini. Kalau dalam situasi seperti ini kita sebut dengan era pembangunan ekonomi saja. Lha, kalau terguncang seperti apa, ya! Mungkin, kita –sesekali- perlu mendengar “penilaian” radio on-line bangsa lain via internet tentang situasi ekonomi pembangunan yang sering kita sebut-sebut tadi khususnya ketika negeri kita ini sedang ditimpa berbagai bencana alam. Saya nggak paham, mana yang lebih mengerikan dampaknya secara ekonomi: bencana alam atau bencana politik? Seandainya disuruh dan harus memilih, terkena bencana alam atau bencana politik, saya pasti lebih memilih bencana politik asal –ada catatannya- damai seperti di Thailand tadi.
Sebagai bukan orang ekonomi, sesaat saya sempat tercenung. Melihat bencana alam dahsyat yang datang silih berganti, muncul tanda tanya besar dalam benak saya, “Kapan pembangunan ekonomi dapat benar-benar dilakukan di negeri yang disebut-sebut Koes Plus sebagai tanah surga ini?” Sambil sedikit berkhayal, “Mungkin ini saat yang tepat bagi saya untuk numpang latah lewat media dengan menghembuskan istilah baru dalam khasanah ilmu perekonomian?” To the point saja, di negeri tercinta ini berbicara ngalor-ngidul tentang tentang ekonomi atau politik sepertinya lebih diperhatikan dan didengar banyak orang daripada ngomong tentang lingkungan atau bidang-bidang teknik yang memang pernah sekilas saya pelajari. Nah, istilah pertama yang mau saya angkat adalah ekonomi pemulihan (revival economics). Rasionalitasnya sangat jelas, kita harus fokus pada berbagai upaya ekonomi untuk menormalkan kondisi-kondisi berbagai aspek kehidupan yang rusak atau terganggu akibat bencana. Seluruh perencanaan ekonomi dibuat dengan mengasumsikan jumlah bencana dan dampaknya yang bakal dialami sekian tahun ke depanh. Tapi setelah saya renungkan kembali, ekonomi pemulihan rasa-rasanya juga terlalu prematur untuk dipublikasikan. Persoalannya, -uji kasus pertama- bagaimana mungkin saya bisa menghitung biaya yang harus dikeluarkan oleh bangsa ini untuk memulihkan kondisi mental sekian banyak saudara-saudara kita di Aceh dan Nias yang di saat belum mampu melupakan hempasan Tsunami, ternyata masih harus diombang-ambingkan oleh ketidakjelasan bantuan? Saya tidak menemukan indikator-indikator kinerja ekonomi pemulihan yang tepat untuk menunjukkan bahwa korban tsunami di Aceh dan Nias telah pulih secara fisik dan mental. Uji kasus kedua. Benarkah kerugian aset akibat luapan Bengawan Solo “hanya” ratusan milyar rupiah (Kompas, 4/1/07)? Istilah “aset” dalam bencana sepertinya susah sekali didefinisikan. Apakah jumlah sepeda motor dan mobil yang rusak sudah tercatat? Apa alat-alat elektronika yang ada dalam rumah-rumah tersebut masih dapat digunakan kembali? Dan yang paling penting, banjirnya kan belum jelas kapan surutnya dan kapan tidak banjir lagi kalau hujan kembali datang? Bagaimana mungkin kerugian sudah dapat mulai dihitung? Lalu tentang “wacana” penghijaukan DAS Bengawan Solo. Penghijauan? Menurut saya, ide penghijauan terlalu berat untuk dimasukkan ke dalam komponen ekonomi pemulihan. Waktu realisasinya terlalu lama, tidak cocok untuk dimasukkan ke dalam konsep pemulihan yang membutuhkan jangka waktu penerapan lebih pendek. Penghijauan lebih cocok dimasukkan ke dalam filosofi ekonomi pembangunan yang saat ini agaknya perlu dipinggirkan sejenak bagi negeri ini. Bagaimana mungkin saya bisa menghitung berapa banyak biaya yang dibutuhkan untuk mengembalikan lapisan tanah subur di atas bumi Gresik, Lamongan, Tuban, Gresik, Blora, Solo, Sragen, dll yang sudah terlanjur dicuci oleh banjir? Seandainyapun ide penghijauan tersebut luar biasa canggih sehingga dapat dalam sekejap menumbuhkan berbagai tanaman keras sepanjang DAS Bengawan Solo, toh kita tidak boleh lupa bahwa musim hujan sedang di tengah jalan. Mau menanamnya kapan? Satu lagi, kita harus siap-siap mengelus dada karena setelah tanaman-tanaman tersebut –seandainya berhasil tumbuh- dan memiliki diameter (baru) 5 cm, pikiran masyarakat di sepanjang DAS tersebut akan dipenuhi bayangan pasokan bahan bakar gratis! Berarti? Untuk dua kasus bencana alam saja konsep ini tidak bekerja. Masih layakkah ekonomi pemulihan diangkat? No way!!
Bagaimana dengan istilah ekonomi pertahanan (survival economics). Walah, rasa-rasanya juga nggak pantes! Lha, wong terlalu banyak korban bencana alam yang mengaku –semoga tidak mengaku-ngaku- belum terima kiriman bantuan dari pemerintah? Lho, kan kemarin di TV sudah ada yang salaman sambil sesenggukan terharu waktu terima bantuan? Itu kan bisa jadi salah satu indikator ekonomi pertahanan! Ya, justru itu. Tangis yang muncul di TV tadi merupakan bukti bahwa istilah ekonomi pertahanan pun masih belum dapat diterapkan. Mereka menangis karena mereka tidak yakin bantuan tersebut cukup untuk mendukung kehidupan mereka dalam beberapa hari ke depan. Pasalnya, tidak ada yang dapat meramal kapan banjir bakal surut atau tidak datang lagi. Tapi jangan khawatir, saya masih punya cadangan konsep lainnya, namanya ekonomi simpati (sympathy economics). Seperti apa itu? Ekonomi simpati adalah ekonomi kesabaran. Indikatornya sangat jelas dan sederhana, konsep ini dapat kita anggap berhasil kalau sudah ada yang bisa ngomong, “Sabar…, sabar…, sabar ya, banjir pasti akan surut. Kita semua turut prihatin…” Masih tidak layak juga? Harap maklum, saya bukan ekonom.
Tigor Tambunan- Bukan ahli ekonomi

